Sistem Fonologi dan Ejaan Bahasa Indonesia

Sistem Fonologi dan Ejaan Bahasa Indonesia

loading...

Sistem Fonologi dan Ejaan Bahasa Indonesia - Fonologi adalah ilmu yang membahas tentang bunyi-bunyi bahasa. Fonologi pada umumnya dibagi 2 yakni, fonemik (fonem) yang membahas tentang bunyi-bunyi ujaran yang berfungsi sebagai pembeda makna, dan fonetik yang membahas bagaimana bunyi-bunyi ujaran itu dihasilkan oleh alat ucap manusia.


Fonem resmi dalam Bahasa Indonesia ada 32 buah, yang berdiri atas, 6 buah fonem vikal, 3 buah fonem diftong, dean 23 buah fonem konsonan. Semua fonem-fonem tersebut dihasilkan oleh alat ucap manusia, dari batang tenggorokan sampai ke bibir beserta udara yang keluar ketika kita bernafas. Hal ini dibahas dalam tataran fonetik.



Ada 3 bagian alat ucap dalam menghasilkan bunyi ujaran itu, yakni:




  1. udara dari paru-paru,

  2. artikulator, bagian alat ucap yang dapat digerakan/digeser ketika bunyi diucapkan, misalnya rahang bawah, lidah,

  3. titik artikulasi, yakni bagian alat ucap tidak dapat digerakkan (bagian yang menjadi tujuan sentuh artikulator) misalnya, rahang atas, langit-langit lembut, dll.


Selain fonem dan fonetik, hal yang perlu dipahami ketika berujar adalah intonasi. Intonasi mengatur tinggi-rendah, keras-lunak, cepat lambatnya suara dalam berujar sehingga ujaran dapat dipahami oleh pendengar. Jadi intonasi merupakan rangkaian nada yang diwarnai oleh tekanan, durasi penghentian suara ketika seseorang berujar (berbicara).


Selanjutnya dalam bahasa tulisan, yang dipentingkan adalah ejaan. Dalam ejaan tercakup perangkat peraturan tentang bagaimana menggambarkan lambang-lambang fonem (bunyi ujaran) dan bagaimana interrelasi antara lambang-lambang itu dituliskan dengan benar dalam suatu bahasa. Ejaan yang berlaku dalam bahasa Indonesia saat ini adalah Ejaan Yang Disempurnakan, yang didalamnya memuat 5 bab peraturantentang tata tulis dalam bahasa Indonesia, yakni pemakaian huruf, penulisan huruf, penulisan kata, tanda baca, dan penulisan unsur serapan.


Morfologi adalah ilmu bahasa yang membahas tentang bentuk-bentuk kata. Satuan bahasa yang menjadi unsur pembentuk kata disebut morfem. Satuan yang menjadi unsur pembentuk kata ini ada yang telah mengandung makna, disebut gramatis, dan yang belum mengandung makna disebut nongramatis. Selanjutnya morfem ada dua macam, yakni morfem bebas dan morfem terikat.


Morfem bebas merupakan morfem yang dapat berdiri sendiri sebagai kata, dan morfem terikat merupakan morfem yang belum mempunyai potensi sebagai kata. Untuk menjadi kata morfem bebas harus melalui proses penggabungan dengan morfem bebas. Dalam bahasa Indoesia morfem terikat dapat dibedakan menjadi dua, yakni morfem terikat pada morfologis, dan morfem terikat pada sintaksis. Morfem terikat pada morfologis (imbuhan) dalam bahsa indoesia berfungsi sebagai (1) Penentu Jenis Kata, (2) Penentu makna kata. Sedangkan makna kata dalam kalimat (makna struktural) dapat dipengaruhi oleh hubungan antar kata yang menjadi unsur kalimat tersebut.


Morfem terikat morfologis, ada yang mempunyai variasi atau mengalami perubahan bentuk jika melekat pada kata-kata tertentu. Morfem ini adalah: awalan me-, ber-, ter-. Gejala ini disebut alomorf.


Pembelajaran fonologi, ejaan morfologi bahasa Indonesia Sekolah Dasar dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi SD mata pelajaran Bahasa Indonesia, bukan merupakan aspek tersediri, tetapi merupakan bagian penunjang dari aspek-aspek bahasa Indonesia yang ada (mendengarkan, berbicara, dan menulis) serta aspek kebahasaan dan apresiasi bahasa dan sastra. Pedoman guru dalam melaksanakan pembelajaran fonologi, ejaan dan morfologi adalah komponen kompetensi dasar mata pelajaran yang didalamnya memuat kompetensi dasar, hasil belajar dan indikator,. Secara operasionalnya pembelajaran fonologi, ejaan dan morfologi dapat diwujudkan secara terpadu dengan aspek-aspek tersebut diatas. Hal ini sejala dengan rambu-rambu mata pelajaran Bahasa Indonesia bahwa, pembelajaran bahasa SD yaitu belajar berkomunikasi baik lisan atau tulisan. Untuk mencapai kemampuan berkomunikasi itu, tentu memerlukan ucapan.


Hal ini termasuk dalam tataran pembelajaran fonologi, ejaan, intonasi dan morfologi. Prinsip yang dapat dijadikan pedomannya, antara lain:




  1. Pembelajaran diberikan dari yang mudah ke yang sukar,

  2. Pembelajaran diberikan secara tematik/terpadu khususnya antara aspek bahasa,

  3. Pembelajaran disajikan sesuai konteksnya.


Penyusunan rencana pembelajaran fonologi, ejaan dan morfologi terdiri atas tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan dan penilaian. Komponen-komponen yang dicantumkan dalam perencanaan pembelajaran adalah:




  • Identitas

  • KBK, HB dan Indikator

  • Rumusan TPK

  • Langkah pembelajaran

  • Bahan, caranya dan sumber

  • Penilaian


Itulah pembahasan Ipapedia terkait Sistem Fonologi dan Ejaan Bahasa Indonesia. Semoga artikel ini bermanfaat untuk anda.
Advertisement

Baca juga:

loading...
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar